Kamis, 05 Februari 2015

[Review] Assassin's Creed IV: Black Flag

Seperti yang saduahdijanjikan Ubisoft, akhirnya hari ini mereka membeberkan lebih banyak detail lagi untuk Assassin’s Creed IV: Black Flag. Ya, meskipun sempat banyak konten seperti trailer dan screenshot yang bocor lebih awal, namun hal tersebut tidak menyurutkan langkah Ubisoft untuk memberikan detail ini. Ubisoft menjanjikan game ini akan lebih masif dibandingkan AC sebelumnya. Hal tersebut tidak lain karena mereka mengerahkan hingga DELAPAN studio mereka yang tersebar di Singapura, Sofia, Annecy, Kiev, Quebec, Bucharest, Montpellier, dan juga studio utama mereka di Montreal untuk menggarap game ini. 
Dalam AC IV: Black Flag, kamu akan berperan sebagai Edward Kenway, ayah dari Haytham Kenway sekaligus juga kakek dari Connor Kenway yang kita temui dalam AC III. Game ini ber-setting pada tahun 1715 di pulau-pulau sekitar Laut Karibia, dimana nantinya bisa kamu jelajahi dengan layar loading yang minimal. Selain menjanjikan layar loading yang minimal, Ubisoft menjanjikan dalam game ini kamu bisa menjelajahi lebih dari 50 lokasi berbeda, mulai dari Kuba hingga Jamaika, dengan alam yang berbeda-beda pula meliputi perkotaan, hutan, dan tentu saja laut lepas. Ya, dengan kapasitas Edward yang juga merupakan seorang bajak laut ulung, maka laut lepas akan menjadi “rumah”-mu. Edward bisa menjelajah samudera, membajak kapal lain, berburu hiu, hingga menjelajahi dasar laut untuk menemukan harta karun dari kapal yang karam.
Saat memainkan game ini, kamu akan menemui banyak nama-nama bajak laut tenar seperti Edward Teach yang sering dikenal dengan Blackbeard, Benjamin Hornigold, Calico Jack hingga Anne Bonny. Namun tentu saja, game ini juga masih menyuguhkan peperangan klasik antara Assassin dengan Templar, yang dibaurkan dengan kisah-kisah terinspirasi dari cerita nyata seperti percobaan Hornigold yang ingin mendirikan sebuah republik yang dikendalikan oleh para bajak laut di Bahama, tenggelamnya Armada Spanyol, hingga kisah Charles Vane yang terkenal karena terdampar di sebuah pulau berpasir.+

Mengenai Edward Kenway, Ubisoft mendeskripsikannya sebagai seorang yang memiliki ego tinggi namun memiliki karisma sebagai seorang pemimpin. Sama seperti para pendahulunya yang merupakan garis keturunan assassin sejati, Edward juga memiliki kemampuan tersebut, mulai dari aksi parkour (kamu bisa ber-parkour ria dari satu kapal ke kapal lain!) hingga kemampuan melakukan silent kill. Edward juga memiliki sebuah kapal bernama Jackdraw, sebagai kendaraannya untuk mengarungi lautan. Kamu bisa mengkustomisasi Jackdraw, mulai dari meng-upgrade-nya, memperbaikinya setelah bertempur, mengkustomisasi, hingga mengatur siapa saja yang kamu pilih untuk menjadi krumu. Di awal permainan, mungkin kamu hanya bisa membawa beberapa kru saja karena kapasitas yang kecil, namun seiring dengan permainan kamu bisa memperbesar kapasitas kapalnya. Saat menjelajah laut lepas pun kamu bisa naik ke atas geladak kapal, mencari kapal lain yang ada di sekitar kamu, lantas menyerang dan mengambil persediaannyasud

[Review] Assassin's Creed: Rogue

Sebagai salah satu penggemar Assassin’s Creed (AC) dari seri pertamanya tahun 2007 lalu, penulis cukup antusias dalam menyambut dua game AC yang dirilis tahun ini, AC Unity dan AC Rogue. Namun penulis sedikit kecewa dengan apa yang dilakukan Ubisoft saat melakukan kampanye dua game ini. Ubisoft terkesan seolah-olah menjadikan AC Rogue sebagai “anak tiri” dengan sedikitnya materi kampanye yang diberikan untuk game ini. Bandingkan saja dengan AC Unity yang mendapatkan banyak materi kampanye, mulai dari puluhan trailer, event melibatkan fans bahkan video di balik layarnya pun sempat dipublikasikan.
Namun sejak awal konfirmasinya, penulis merasa lebih antusias dalam menyambut AC Rogue. Yap, mungkin kamu masih ingat dengan artikel opini penulis beberapa waktu lalu mengenai beberapa alasan untuk antusias dengan judul ini. Entah mengapa, penulis cukup yakin dengan langkah Ubisoft dalam AC Rogue ini, dengan memperkenalkan sosok assassin yang berubah menjadi templar dalam diri Shay Patrick Cormac. Meskipun masih dikembangkan untuk konsol last gen yang tentunya dengan teknologi tidak secanggih AC Unity, namun ada beberapa hal yang menjadi nilai jual utama game ini, antara lain story dan karakter. Bukankah menikmati game tidak melulu hanya dari sisi grafis dan teknologi?

Di saat AC Unity mengalami banyak masalah (yang membuat penulis sedikit menunda untuk memainkan game ini), AC Rogue bisa dibilang hadir nyaris tanpa masalah yang berarti dari sisi performa. Meskipun sampai saat ini penulis belum mencoba AC Unity, namun dari sisi performa penulis cukup yakin bahwa AC Rogue bisa memukul telak AC Unity. Performa disini dalam artian mengenai bug, glitch dan juga masalah-masalah lain di luar gameplay. Padahal, AC Rogue dikembangkan lebih singkat dibandingkan AC Unity karena masih menggunakan beberapa teknologi yang sama dengan AC IV: Black Flag (atau bahkan AC III) lalu.

Lagi-lagi, hal ini membuat penulis merasa AC Rogue menjadi “anak tiri” dari Ubisoft karena minim memberikan inovasi. Namun Ubisoft Sofia mampu menjawabnya dengan performa game yang cukup baik, meskipun tidak 100% bersih dari bug dan glitch. Satu-satunya masalah di performa yang penulis catat adalah waktu loading yang cukup lamaaa saat kamu berpindah dari satu area ke area yang lain, atau dari satu sequence menuju sequence berikutnya. Penulis cukup memahami hal ini, karena toh memang game ini dikembangkan di konsol last gen dengan teknologi yang mungkin sudah cukup uzur.
Satu lagi alasan yang membuat penulis bisa memaklumi waktu loading yang cukup lama ini adalah masifnya area yang disediakan Ubisoft untuk game ini. Dengan luasnya area dan banyak variasi lingkungan, membuat kamu bisa melakukan banyak hal, baik di darat maupun di laut. AC Rogue bukanlah game dengan grafis terbaik untuk last gen, namun terlihat lingkungan ini di-render dengan cukup halus dan memaksimalkan potensi terbaik dari PS3 dan Xbox 360. Sayang, mungkin karena keterbatasan teknologi, beberapa detail masih terlihat kabur, dan juga bayangan dari objek kadang menghilang.

Dari sisi story yang menjadi kekuatan utama dari AC Rogue, penulis menganggap Ubisoft berhasil menutup lubang plot dari saga Revolusi Amerika dengan baik. Meskipun masih ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab, kehadiran Shay penulis anggap cukup baik dalam menjadi jembatan antara kisah AC III dengan AC IV: Black Flag lalu. Ubisoft bahkan juga berusaha untuk menghadirkan berbagai plot menarik, yang menghubungkan game ini dengan AC Unity. Penulis rasa sudah mengambil langkah yang tepat, dengan memainkan AC Rogue dahulu sebelum memainkan AC Unity. Dan saran penulis sih, lakukan hal yang sama ya sembari menunggu masalah-masalah dalam AC Unity terselesaikan.
Ada juga beberapa misi untuk templar yang “baru” di game ini, seperti melindungi target dari para assassin yang memburunya. Naval battle juga sedikit mendapatkan improvisasi, dimana saat menjadi templar bukan kamu yang harus boarding ke kapal musuh, melainkan kamu yang harus bertahan dari assassin yang tiba-tiba melompat ke geladak kapalmu. Namun sayang, bagi kamu yang suka dengan aksi parkour, game ini cukup bermasalah dalam hal tersebut. Contohnya saat kamu berayun dari satu pohon ke pohon yang lain sebelum melakukan air assassinate, kamu harus melakukannya dengan hati-hati atau kamu bisa jatuh sebelum saat yang kamu inginkan.
Kesimpulannya, seperti judul di atas, rupanya Ubisoft Sofia ingin menunjukkan bahwa “si anak tiri” ini pun bisa memberikan kejutan dengan tampil memukau. Menjadi templar dalam game ini menjadi sebuah kesenangan tersendiri, yang mungkin tidak pernah kamu dapatkan di game-game sebelumnya. AC Rogue bisa menjadi perpisahan terbaik seri AC di PS3 dan Xbox 360 jika di masa yang akan datang Ubisoft memutuskan untuk meninggalkan generasi konsol ini.

Senin, 02 Februari 2015

[Knowledge] Main Character part 1

UKali ini saya akan mengulas tentang karakter utama di assassin's creed dan musuh utamanya

1.Altaïr Ibn La ahd
  Laki-laki kelahiran syria tahun 1165-1257 ini adalah anggota dari levantine brotherhood of assassination ini nantinya menjadi mentor utama dari ordo assassin. Ia menjadi mentor hingga akhir hidupnya. Ia memiliki musuh bernama abbas. Ia muncul di Assassin's Creed Revelation sebagai memori yang dilihat oleh ezio. Ia juga muncul di novel Assassin's Creed The Secret Crusade.

2.Ezio Auditore da Firenze
  Ezio Auditore da Firenze (of florence) adalah seorang bangsawan selama masa renaissans. Ia adalah mentor dari persaudaraan assassin di italia. Ia mewariskan darah assassin nya ke Desmond Miles dan Clay Kaczmarek. Ezio muncul sebagai karakter protagonis di Assassin's Creed II/2 dan Brotherhood.

3.Ratonhnhaké:ton /Connor Kenway
   Connor adalah seorang assassin di zaman revolusi amerika. Connor juga berperan penting di salah satu perang antara amerika dan inggris. Ia juga memiliki relasi dengan beberapa petinggi amerika seperti george washington. Ia adalah anak dari haytham kenway dan cucu dari edward kenway. Ia memiliki misi balas dendam dengan kehancuran sukunya. Ia menjadi main karakter di Assassins creed III

4.Haytham Kenway
   Haytham adalah grand mastet templar yang secara diam-diam menjadi assassin. Ia memiliki anak bernama connor kenway yang nantinya membunugnya karena mengetahui ayahnya seorang templar. Ia muncul di Assassin's creed III sebagai main character pertama dan antagonis di sisa cerita

5.Edward Kenway
   Edward kenway adalah assassin pertama di zaman revolusi amerika Ia berdarah  assaassin dan bajak laut. Ia memiliki kapal perang yanv dalam suatu cerita berhasil mengalahkan 7 hingha 8 kapal utama musuh.
Ia adalah karakter protagonis di Assassin's creed Blackflag

Jumat, 30 Januari 2015

[Preview] Assassin's Creed:Unity

  Memanjat gedung dengan kemampuan akrobat yang mustahil,membunuh para penjaga yang hanya melakukan pekerjaan mereka, memecahkan teori konspirasi yang terbentang selama ribuan tahun. Seorang pemuda dengan tudung yang menutupi hampir sepauh wajahnya. Akhirnya serial terbaru assassin's creed telah dirilis! Ubisoft kembali mengeluarkan franchise ternama mereka,Assassin's Creed. Tidak tanggung-tanggung, Assassin's Creed merilis 2 game sekaligus tahun 2014. 2 game itu adalah, Assassin's Creed Unity dan Assassin's Creed Rogue. Meskipun begitu, Ubisoft lebih cenderung menjadikan AC Unity sebagai game utama ditahun 2014.
 
  Tentu saja dalam aspek kualitas gambar, Unity lebih ungguk dibanding game terdahulunya. Tetapi ternyata masih banyak bug dan glitch di game ini. Mulai dari karakter yang menghilang,masalah save,game yang tiba-tiba mati dan lain sebagainya. Jangan khawatir,pemain masih bisa memperbaikinya dengan menunggu ubisoft mengeluarkan patch untuk game ini. Bug juga jarang terjadi. Jadi takperlu berpikir dua kali untuk memainkan game ini.

  Banyak fitur yang menyenangkan di game ini. Khususnya pilihan senjata yang lebih banyak dan misi selingan yang mudah dan membantu. Game ini menyajikan hal yang lebih nyata dibanding serial sebelumnya. Contohnya pertarungan yang lebih kompleks dan sulit. Jika di game sebelumnya pemain hanya cukup menekan tombol counter,digame ini pemain tidak bisa seenaknya bermain counter.

  Mengingat paris juga markas besar ubisoft,tak heran kalau disini pemain memiliki maps yang jauh lebih luas dan seru untuk dijelajahi. Walaupun ternyata dengan menamatkan misi pun,masih banyak bagian kota yang belum tersentuh sama sekali.

  Percayalah,jika kamu memiliki game ini kamu bisa dibilang kaya. Karena hanya untuk satu game bisa mencapai harba 600.000! Bahkan di xbox maketplace harganya mencapai 700.000 lebih! Luar biasa bukan? Harga itu setimpal dengan apa yang kita dapatkan saat memainkannya.

Bagaimana? Sudah berpikir untuk membelinya? Pemain takkan menyesal jika telah membelinya. Artikel ini bertujuan untuk membantu gamers mengetahui game AC Unity.

Kamis, 29 Januari 2015

[Review] Assassin's creed: Brotherhood

  Bagi para gamers ataupun para rookie, ubisoft kembali mengeluarkan seri terbaru ini bernama 'Brotherhoood'! Ini adalah seri ketiga dari franchise Assassin's Creed. Brotherhood kembali menceritakan tentang Ezio Auditore Da Firenze.
  Awal cerita dimulai dari Ezio yang bertemu Minerva, lalu Ezio dan Mario melarikan diri dari The Vault. Pada malam di Monterigiioni Ezio diserang oleh pasukan Cesare Borgia, lalu Ezio melarikan diri ke Roma untuk mencari bantuan. Ezio mempunyai tujuan untuk membalas dendan kematian Mario Auditore dan membawa liberasi ke Roma.
   Apa perbedaan dari Assassin's Creed 2 dan Brotherhood? Brotherhood memiliki map yang lebih besar untuk dijelajahi. Selain itu, Brotherhood memiliki senjata, alat-alat yang lebih banyak dari sebelumnya. Ada fitur baru yang ditambahkan oleh Ubisoft yaitu "Call Assassin" dan "Arrow Storm". Brotherhood juga mempunyai fitur "Recruit Assassin" untuk merekrut dan memberi misi kepada Assassin-Assassin baru.
   Konflik pertama ,diceritakan bahwa ezio harus membantu pamannya untuk mempertahankan kota tercintanya,florence. Ia terus menerus menembaki pasukan templar dengan seluruh amunisi meriamnya. Walaupun dengan keberhasilannya,ezio tetap terpukul ketika melihat pamannya ditembak di depan matanya sendiri. Dengan rasa yang bercampur aduk,ezio hanya bisa berdiri kemudian tertembak oleh salah satu pasukan cesare borgia.
    Cerita berlanjut setelah ezio sadar. Sayangnya cerita berlanjut dengan ezio tanpa armornya. Disini ezio cukup rawan terkena serangan. Ada beberapa misi dimana ezio harus berlarian dan terkepung oleh prajurit templar. Dengan keadaan yang belum sepenuhnya pulih,ezio terus dikejutkan dengan kejadian kejadian yang terjadi disekitarnya.
    Di game ini misi ezio bertujuan untuk melemahkan pengaruh borgia di kota roma. Beruntungnya ia kerap mendapat bantuan dari teman temannya seperti Machiavelli, La volpe, Bartolomeo dan sang adik,claudia auditore. Setelah menyelesaikan misi membantu teman temanya,ezio kemudian dapat merekrut beberapa anak buah yang nantinya akan berguna ketika bertarung.
   Di akhir cerita, ezio harus membunuh Cesare Borgia. Dengan menyelesaikan misi itu,selesailah cerita dari game ini.
   Disela sela misi utama,pemain juga dapat memainkan misi selingan seperti 'armor of romulus' dan membunuh kapten borgia.

Artikel ini bertujuan untuk membantu pemain menyelesaikan atau menamatkan permainan. Terimakasih bagi para pembaca,mudah mudahan artikel ini membantu.

Kamis, 22 Januari 2015

Assassin's Creed Renaissance: The Truth Will Written by Blood

Pengarang: Oliver Bowden
Penerbit: Ufuk Press, Juni 2010
Harga: Rp89.900,00

Novel ini akan mempertemukan kita dengan Ezio Auditore, seorang pemuda tampan dan gagah, di kota Florence kebanggaan Italia. Sebagai calon pewaris salah satu bank terbesar di Italia pada masa itu, Ezio menghabiskan hari-harinya dengan membantu pekerjaan ayahnya…, kalau dia tidak sedang sibuk berpacaran dengan Cristina atau berkelahi dengan pewaris Pazzi yang congkak!

Namun, tiba-tiba hari-hari indahnya sirna ketika keluarganya dituduh mengkhianati Florence, bahkan ayah dan saudara-saudara laki-laki Ezio dihukum gantung di tengah kota. Setelah menyembunyikan ibu dan adik perempuannya, Ezio bertekad untuk memulai rangkaian pembalasan dendamnya, tapi ternyata masalah mereka lebih pelik dan mendalam daripada yang bisa Ezio duga.

Ayah Ezio adalah anggota Ordo Assassins yang telah lama berperang dengan Templars demi menggagalkan rencana jahat mereka yang ingin menguasai dunia. Ezio menemukan baju tarung ayahnya, sebuah senjata antik, dan secarik halaman Codex misterius. Dengan bantuan Leonardo da Vinci, Ezio berhasil memperbaiki senjata itu dan membuat senjata-senjata lainnya ketika semakin banyak halaman Codex yang dia kumpulkan dari musuh-musuhnya. Codex ini pula yang akan membimbing Ezio menuju rahasia terdalam Ordo Assassins, juga kekuatan terpendam di bawah Vatikan yang dikira sanggup menghancurkan dunia.

Menjelajahi Italia pada Zaman Renaissance
Novel ini dibuat berdasarkan game terlaris Ubisoft yang berjudul Assassin’s Creed II, juga sudah diadaptasi ke dalam bentuk layar lebar. Game bergenre role playing game memang biasanya mempunyai alur cerita yang kuat, tapi tidak diragukan lagi bahwa Assassin’s Creed II dibuat dengan bobot khusus dan kedalaman cerita yang setara dengan novelnya. Sementara tokoh utama dalam game Assassin’s Creed IIberpindah-pindah dari masa kini ke masa lalu (dengan memasuki “pengalaman” Ezio), novelnya secara konsisten bercerita tentang Ezio Auditore di Italia abad 15-16.

Salah satu kekuatan dalam novel dan game ini adalah setingnya. Memang kalau kita memainkan game Assassin’s Creed II, kita bisa melihat langsung keindahan kota Florence dan tempat-tempat lainnya yang dikunjungi oleh Ezio di Italia. Namun, Oliver Bowden sebagai pengarang juga pandai menguraikan seting tersebut dalam kata-kata, bahkan memasukkan perasaan Ezio (yang tidak bisa disampaikan lewat game) terhadap Florence kota kelahirannya. Bowden tidak hanya berhasil menyajikan seperti apa kota-kota tersebut, tapi juga apa yang sedang terjadi di sana pada masa itu. Semangat dan kecemasan orang-orang Venesia terhadap abad baru (yang disertai desas-desus hari kiamat) adalah salah satu dari sekian banyak hal yang dipercikkan kepada pembaca lewat novel ini.

Hal menarik lainnya dalam novel Assassin’s Creed: Renaissance adalah keberadaan tokoh-tokoh nyata yang difiktifkan. Kita akan diajak masuk ke dalam ruang kerja Leonardo da Vinci sang seniman sekaligus penemu, dan melihat bagaimana Niccolò Machiavelli sang filsuf terinspirasi untuk menulis bukunya yang terkenal, The Prince, tentang negara yang kuat. Ada juga pastor Savonarola yang memang pernah memerintah secara paksa di Florence pada 1494-1498. Musuh utama dalam novel ini, Rodrigo Borgia, adalah versi fiktif dari seorang kardinal Spanyol yang menjadi Paus Alexander VI pada masa senjanya. Bahkan, usaha pembunuhan Lorenzo de’ Medici (pemimpin Florence) oleh keluarga Pazzi diangkat dari kejadian nyata.

Bagaimanapun juga, membaca novel ini butuh kehati-hatian dalam berpikir. Ezio membunuh musuh-musuhnya, tapi dia tidak melakukan itu dengan senang dan berpuas hati (kecuali ketika membunuh dua orang yang menyebabkan kematian keluarganya secara langsung). Ordo Assassins juga menegakkan kebenaran dengan membunuh para Templars yang serakah dan merusak kedamaian. Tidak diragukan lagi, adegan sadis (tapi tidak membuat mual) berhamburan di mana-mana. Apakah ini cara yang benar untuk menegakkan kebenaran? Pembaca yang belum dewasa pikirannya sebaiknya tidak membaca buku ini sendirian.

sumber:http://el-ovio.blogspot.com/ [Maaf blogger ini hanya digunakan untuk tugas sekolah. thankyou!]